Minggu, 01 Mei 2011

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA ORGAN HATI DARI AYAM YANG TERINFEKSI COLIBACILLOSIS



 
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mikroorganisme yang terdapat pada manusia dan hewan bisa berupa bakteri, kapang, kamir, protozoa, dan virus.  Mikrooganisme ini terdapat pula di dalam alam, yaitu tanah, air, udara, tumbuhan, dah hewan.  Mikroorganisme yang terdapat pada hewan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu mikroorganisme yang merupakan penghuni tetap tubuh hewan atau yang disebut komensal dan mikroorganisme yang merupakan penghuni sementara tubuh hewan.  Mikroorganisme ini bisa berupa mikroorganisme patogen maupun non-patogen yang terdapat dalam tubuh hewan dalam waktu tertentu saja (Bonang dan Koeswardono 1982).
Mikroorganisme komensal dapat kemudian menyebabkan penyakit.  Hal ini dapat terjadi bila mikroorganisme tersebut tiba – tiba menyebar ke seluruh tubuh hewan melalui darah dan jaringan tubuh karena adanya luka.  Dalam keadaan demikian mikroorganisme tersebut dapat menjadi patogen, namun pada umumnya mikroorganisme komensal adalah non – patogen dan bahkan berguna untuk inangnya.  Mikroorganisme ini hanya menimbulkan penyakit bila suatu sebab berada pada lokasi yang baru dan bila ada faktor – faktor luar yang mempengaruhi keadaan.  Mikroorganisme komensal yang kadang – kadang menyebabkan penyakit dinamakan mikroorganisme opprtunis (Bonang dan Koeswardono 1982).
Hasil suatu pemeriksaan mikrobiologi pada umumnya hanya menunjang diagnosa klinik.  Bila hasil pemeriksaan negatif, hal ini tidak berarti bahwa diagnosa klinik tersebut salah.  Kegagalan pemeriksaan mikrobiologik lebih banyak terjadi karena cara pengambilan dan pengiriman bahan pemeriksaan yang salah.  Makin cepat bahan pemeriksaan tiba di laboratorium makin baik hasil pemeriksaannya.  Bila diperlukan waktu lama maka haruslah bahan pemeriksaan tersebut didinginkan atau dimasukkan ke dalam suatu perbenihan pengawet (Bonang dan Koeswardono 1982).
Pemeriksaan sampel mulai dari isolasi, identifikasi, dan menemukan agen patogen penyebab penyakit adalah kegiatan utama di laboratorium diagnostik yang bertujuan untuk meneguhkan diagnosa klinis yang dibuat oleh dokter sehingga tindakan preventif dan kuratif yang diberikan bisa dibuat tanpa keraguan dan sedini mungkin.

Tujuan
Uji ini ditujukan untuk mengetahui agen penyebab penyakit berdasarkan gejala klinis dan anamnese.  Kegiatan ini juga ditujukan untuk melatih mahasiswa untuk mengambil sampel, isolasi, serta identifikasi bakteri dengan baik dan benar.


























 
TINJAUAN KASUS

Data Spesimen
Pengambilan spesimen dari Laboratorium Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.  Pemeriksaan sampel dilakukan pada tanggal 12 April 2011.
·      Spesimen: Organ hati
·      Signalemen:      
Jenis Hewan      : Ayam
Ras                     : Lohman
Umur                 : 22 hari
·      Anamnesa:
-Hari ke – 4 di vaksin New Castel Disease (ND) dan Avian Influenza (AI)    kill.
-Hari ke – 8 di vaksin Infectious Bursal Disease (IBD).
-Hari ke – 1 sampai ke – 5 diberi obat amoxilin.
-Hari ke – 14 diberi enrofloxacin.
-Terjadi kematian 60 ekor dari 3500 ekor.
·      Gejala Klinis: ayam kerdil, ptekhi pada mata
·      Pemeriksaan Patologi Anatomi :
1.    Sistem respirasi
-Adanya eksudat pada laring.
2.  Sistem pencernaan
-Pada tembolok terdapat spot – spot putih bekas vaksin IBD.
-Pada proventikulus terdapat ptekhi dan hipertropi kelenjar proventikulus.
-Pada usus halus terjadi hemoragi akibat enteritis.
-Pankreas ukurannya mengecil (atropi).
-Pada hati terjadi degenerasi akibat hepatitis.
3.  Sistem Limforetikuler
-Pada caecal tonsil bagian kiri terjadi pembesaran (hipertropi).
4.  Sistem Sirkulasi
-Jantung mengalami hipertropi.
-Pada perikardium terdapat akumulasi cairan.
5.  Sistem Urogenital
-Ginjal mengalami hipertropi.
-Terdapat asam urat di ureter.
6.  Sistem Syaraf Otak
-Ada vasa injectio pada meningen.
·      Diagnosa sementara: Infeksi bakteri (Colibacillosis).
·      Pemeriksaan Laboratorium: Pemeriksaan natif dan uji identifikasi bakteri.

























 
METODE KERJA ISOLASI DAN IDENTIFIKASI

Media Biakan
Agar darah (blood agar), agar Mac Conkey (MCA), Nutrient Agar (NA), media Indol, Triple Sugar Iron Agar (TSIA), media urea, media sitrat, media MR-VP, dan Mannitol Salt Agar (MSA).

Bahan
Brain Heart Infusion (BHI) broth, cotton bud, alkohol 70%, NaCl fisiologis, pewarna Gram (kristal violet, lugol, aseton alkohol, dan safranin), minyak imersi, xylol, H2O2 3%, kaldu karbohidrat, reagen Ehrlich, plasma kelinci.

Alat
Alat pengocok mekanis, gelas obyek, tisu, korek api, bunsen, öse kertas saring, mikroskop, spidol, needle, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet Pasteur, tabung mikro, tip, mikropipet.
















Metode

 













Nutrient agar
 
                                                                               









Uji koagulase
 
 
















 
HASIL

Tabel 1. Pengamatan koloni bakteri makroskopis
Jenis pengamatan
Blood Agar
Mac Conkey Agar
Koloni I
Koloni II
Koloni III
Warna
Putih
Krem
Merah muda
Ukuran
1 – 2 mm
1 – 2 mm
1 – 2 mm
Permukaan
Halus
Halus
Halus
Tepi
Rata
Rata
Rata
Elevasi
Cembung
Cembung
Cembung
Aspek
mengkilat
Tidak mengkilat
Mengkilat
Bentuk koloni
Bulat
Bulat
Bulat

Koloni II
 
Koloni I
 
Gambar 1.  Koloni bakteri pada media BA
Koloni III
 
Gambar 2.  Koloni bakteri pada media MCA

Tabel 2.  Hasil pengamatan pewarnaan Gram dari media primer (BA dan MCA)
Parameter
Media
Koloni I
Koloni II
Koloni III
Sifat Gram
Gram positif
Gram positif
Gram negatif

Tabel 3.  Hasil pengamatan pewarnaan Gram pada media nutrient agar
Parameter
Media
Koloni I
Koloni II
Koloni III
Bentuk
Bulat
Bulat
Batang
Susunan
Berantai
Bergerombol
Soliter
Warna
Ungu
Ungu
Merah
Sifat Gram
Gram positif
Gram positif
Gram negatif

      
(a)                                                                      (b)
(c)
Gambar 3.  Pewarnaan Gram bakteri dari koloni I (a), II (b), dan III (c)

Tabel 4.  Hasil pengamatan uji katalase pada bakteri Gram positif
Media
Hasil
Keterangan
Koloni I
Positif
Ada gelembung
Koloni II
Positif
Ada gelembung

Koloni I
 
Koloni II
 
Gambar 4.  Uji katalase pada koloni I (panah merah) dan
koloni II (panah hijau)

Tabel 5. Uji fermentasi karbohidrat pada bakteri Gram positif
Media
Glukosa
Laktosa
Mannosa
Sukrosa
Maltosa
Koloni I
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
Koloni II
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
Keterangan:
+/+: Adanya perubahan warna media menjadi kuning (asam) dan adanya gelmbung udara dalam tabung Durham.
-/-: Warna media merah (basa) dan tidak adanya gelmbung udara dalam tabung Durham.

 
(a)                                                        (b)
Gambar 5.  Uji fermentasi pada koloni I (a) dan II (b)

Tabel 6.  Hasil pengamatan pada media Mannitol Salt Agar
Media
Hasil
Keterangan
Koloni I
MSA merah
Staphylococcuc sp. non – patogen
Koloni II
MSA merah
Staphylococcuc sp. non – patogen

Koloni I
 
Koloni II
 
Gambar 6.  Koloni I dan II yang ditumbuhkan pada media MSA

Tabel 7.  Hasil pengamatan uji koagulase pada bakteri Gram positif
Media
Hasil
Keterangan
Koloni I
Negatif
Tidak terjadi gumpalan
Koloni II
Negatif
Tidak terjadi gumpalan
Keterangan:
+: Terjadi gumpalan pada tabung Eppendorf.
-: Tidak terjadi gumpalan pada tabung Eppendorf.

b
 
a
 
b
 
a
 
 
Gambar 7.  Uji koagulase pada koloni I dan koloni II

Tabel 8.  Uji Indol dan TSIA untuk bakteri Gram negatif
Media
Uji Indol
Uji TSIA
Motilitas
Uji Indol
Slant
Butt
Gas
H2S
Koloni III
Motil
+
A
A
+
-
Keterangan untuk uji Indol:
Motil/Tidak motil: Pertumbuhan bakteri pada daerah tususkan menyebar/pertumbuhan tidak menyebar pada daerah tusukan.
+/-: Terdapat cincin merah jika ditetesi oleh reagen Erlich.
Keterangan untuk TSIA:
A: Warna media menjadi kuning karena terjadi reaksi asam.
K: Warna media menjadi merah karena terjadi reaksi basa.
+: Adanya pembentukan gas dan endapan hitam.
-: Tidak adanya pembentukan gas dan endapan hitam.

b
 
a
 
Gambar 8.  Uji Indol (a) dan TSIA (b)

Tabel 9.  Uji fermentasi karbohidrat pada bakteri Gram negatif
Media
Uji Fermentasi Karbohidrat
Glukosa
Laktosa
Manosa
Sukrosa
Maltosa
Koloni III
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
Keterangan:
+/+: Adanya perubahan warna media menjadi kuning (asam) dan adanya gelmbung udara dalam tabung Durham.
-/-: Warna media merah (basa) dan tidak adanya gelmbung udara dalam tabung Durham.



Gambar 9.  Uji fermentasi pada bakteri Gram negatif

Tabel 10. Uji Sitrat, Uji Urea, Uji MR-VP
Media
Uji Sitrat
Uji Urea
Uji MR
Uji VP
Koloni III
+
-
+
-
Keterangan:
Uji Sitrat +: Terjadi perubahan warna media menjadi biru.
Uji Urea +: Terjadi perubahan warna menjadi merah ungu.
Uji MR +: Terbentuk cincin merah setelah diberi reagen Methilen Red.
Uji VP +: Terbentuk cincin merah setelah diberi KOH 40% dan α naphtol.
b
 
a
 
c
 
VP 1.jpg                  
                       
Gambar 10.  Hasil uji urea dan sitrat (a), uji MR (b), dan uji VP (c)

Berdasarkan pemeriksaan bakteriologi yang dilakukan di atas dari spesimen organ hati ayam maka didapatkan hasil bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus epidermidis dan bakteri Gram negatif yaitu Escherichia coli.



 
PEMBAHASAN

Colibacillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi Escherichia coli (E. coli).  E. coli merupakan flora normal saluran pencernaan dan normal berada pada lingkungan peternakan ayam.  Sebagian besar merupakan galur non – patogen, sedangkan serotipe yang patogen sekitar 10-15%.  Gejala klinis yang muncul oleh infeksi E. coli pada ayam umur 3 minggu adalah omphalitis, jaringan sekitar pusar menjadi lembek dan oedema, sellulitis, diare, dan salpingitis.  Jenis bakteri E. coli patogen yang bersifat enterotoksigenik (ETEC) akan menyebabkan terbentuknya akumulasi cairan di usus sehingga ayam akan mengalami diare.
Infeksi colibacillosis dapat menjadi sistemik melalui aliran darah dan menginfeksi berbagai jaringan malalui luka.  Colicepticemia bentuk pernafasan akan mengakibatkan kerusakan mukosa saluran pernafasan yang biasanya diikuti dengan perihepatitis dan perikarditis.  Perpindahan bakteri E. coli ke mata akan menyebabkan mata menjadi berawan dan buram, perubahannya diawali dengan kemerahan pada bentuk mata, namun kejadian ini jarang terjadi.  Selain itu E. coli juga dapat menyebabkan peradangan pada otak (meningitis) yang lebih umum disebut enchepalitis.
Menurut Yudhie (2010), infeksi E. coli dapat sebagai infeksi sekunder akibat vaksin IBD, ILT, CRD, dan ND bentuk pernafsan.  Sedangkan pada kasus ayam ini didiagnosa kejadian colibacillosis diakibatkan oleh infeksi primer.  Hal ini didukung oleh hasil pemeriksaan patologi anatomi yang menunjukan adanya lesio pada organ yang secara keseluruhan sama dengan kejadian colibacillosis.  Faktor predisposisi yang menyebabkan kejadian colibacillosis adalah adanya cekaman stres akibat amonia yang tinggi di kandang.
Diagnosa dilakukan di laboratorium dengan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab penyakit dari organ hati ayam yang didukung oleh perubahan organ yang spesifik yang dilakukan di laboratorium patologi.  Untuk keperluan pemeriksaan laboratorium, organ yang mengalami perubahan salah satunya pada hati dikirim dalam keadaan segar dingin ke laboratorium bakteriologi dan dilakukan pemeriksaan.  Diagnosa juga didasarkan pada gejala klinis yang tampak sehingga didapatkan diagnosa penyakit adalah Colibacillosis.
Berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi didapatkan lesio pada berbagai organ yang menunjukan bahwa ayam telah mengalami septicaemia.  Pada sistem respirasi ditemukan adanya eksudat pada laring.  Hal ini disebabkan oleh kadar amoniak yang tinggi di dalam kandang yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada membran mukosa sehingga E. coli tersebut dapat masuk ke saluran respirasi.  Pada sistem pencernaan teredapat lesio spot – spot putih akibat vaksin IBD, terdapat ptekhi dan hipertrofi pada kelenjar proventrikulus, pada usus halus terjadi hemoragi akibat enteritis, atropi pankreas, dan terjadi degenerasi pada hati akibat hepatitis.  Hal ini disebabkan oleh deskuamasi epitel usus akibat endotoksin oleh E. coli yang menyebabkan enteritis.  Pada sistem limforetikuler terjadi pembesaran di caecal tonsil bagian kiri.  Hal ini disebabkan oleh peradangan yang berdampak pembesaran pada caecal tonsil.  Pada kondisi colisepticaemia ditemukan adanya hipertrofi pada jantung dan akumulasi cairan pada perikardium.  Hal ini disebabkan oleh kompensasi dari adanya bakteri di dalam sirkulasi darah sehingga beban jantung untuk mendistribusikan darah ke seluruh tubuh menjadi lebih berat.  Akumulasi cairan di dalam perikardium karena adanya infiltrasi limfosit dan heterofil di dalam kantung perikardium.
Dampak dari adanya E. coli di dalam darah juga berpengaruh pada sistem urogenital yaitu adanya hipertrofi pada ginjal dan asam urat di dalam ureter (visceral gout).  Hal ini disebabkan oleh adanya toksin yang dihasilkan oleh E. coli  yang menyebabkan kerja ginjal untuk menyaring lebih berat.  Keadaan colisepticaemia pada ayam dapat berdampak pada sistem saraf otak dengan terjadinya vasa injectio pada meningen.
Staphylococcus epidermidis yang didapat saat pemeriksaan bakteriologi ini merupakan infeksi sekunder.  Menurut Yudhie (2010), kejadian colibacillosis yang disertai dengan infeksi sekunder lain, seperti Staphylococcus sp. dapat menyebabkan keparahan penyakit sehingga sering terjadi kematian mendadak pada ayam.  Staphylococcus sp. yang sering diisolasi dari unggas meliputi Staphylococcus aureus, S. epidermidis dan S. gallinarum.  Bakteri ini bersifat aerobik, fakultatif anaerobik, dan dapat diisolasi pada 5% agar darah.  Staphylococcus sp. dapat hidup dalam waktu yang panjang di dalam pembenihan padat atau eksudat purulen dan beberapa galur bakteri tersebut bersifat resisten terhadap panas dan desinfektan.
Staphylococosis merupakan penyakit lingkungan.  Menyebar secara lambat karena tidak menular dari ayam ke ayam dan memang secara alami merupakan flora normal di alam.  Infeksi terjadi jika bagian tertentu dari sistem pertahanan ayam mengalami kerusakan sehingga memungkinkan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh ayam, misalnya luka pada kulit atau kerusakan membran mukosa.  Berbagai penyakit imunosupresif, misalnya IBD, marek’s diseases bentuk ringan, dan mikotoksikosis dapat mengundang timbulnya infeksi Staphylococcus sp.  Ayam yang mengalami imunosupresi dapat menderita infeksi Staphylococcus sp. yang bersifat septisemik yang kerapkali dapat berakhir dengan kematian secara akut.  Masa inkubasi infeksi akibat Staphylococcus sp. biasanya singkat antara 1 – 3 hari dan dapat berlangsung1 – 5 minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar